Prologue alias Abstract
I and my big mouth. Sebuah batuan yang ganjil, karena ia gak genap atau berjenis ganda. Untung gak jenis kelamin sekaian. Ini menceritakan gimana si Biru (Bukan sibiru yang mobil itu) terbentuk
Bab 1 - Tarik napas, tahan dan lepaskan
Keep calm and tetap kalem aja. Karena kalian tak perlu melek melihat ini, dan jangan tergesa-gesa. Karena sebentar lagi akan mulai, do it youeself, Take a breathe, stay up, dan come out steadily.
"Sibiru kekurangan Oksigennya. Kenapa? Apa yang terjadi, GWS. Cepat sembuh." Aku heran kenapa sibiru kekurangan oksigennya, Aku maklum usianya gak sampai 1 abad, tapi aku bari nyadari usiamu lebih dari 40 juta abad yang lalu. Artinya aku kurang 39 juta 999 ribu 999 abad yang lalu. Cukup mengherankan bukan.
Aku di luar angkasa. Melihat sibiru lebih jauh. Aku terheran liat si hitam kecil dekat sibiru dan aneh, memutar-mutar. Apa itu semacam lubang hitam, aku tak perduli, aku melihat sekeliling, Aku baru sadar ada sebuah kilatan seperti garis, menyilaukan mata, keluar air mataku, tapi air mataku tertutup kaca, ia semakin membesar dan sakit? Seperti baru dipukul dan memar wajahku, terbakar. Temanku kata buanglah gas di tabung mu? Apa aku akan kentut? bukan, tapi oksigenku yang akan keluar. Aku bingung, tapi aku gak mau kentut lebih awal, begitu juga tabungku.
Waktu itu aku dan teman-temanku berjalan di tempat licin, batunya aneh, gak boleh jatuh, aku takut sepatuku basah dan meleleh, karena aku gak tau ada di mana. Kata temanku, aku berada di Negeri entah berantah, gak ada si Oksi, begitu juga yang hidup. Tapi ada yang kejutkanku something insane di sebuah lubang di depan mataku dan teman-temanku baru nyadarinya. Ternyata itu "Mbakteri, aku kira Bakteri atau bak dengan sekumpulan teri," kataku ke teman2 ku.
Lanjut ku dengan teman lain ke gurun pasir. Aku baru nyadari, "Itu bergaram bukan beragam. kamu bawa unta kan?" Tapi beru kusadari akan ada Mba'dai datang dengan cepatnya. Lalu aku dan untanya serta teman di sebelahku nyadari sakit dan perih mataku karena garam yang mau lewat ke luar gurun.
Di hutan hijau yang sungainya kayaknya besar my girlfriend sedang ngamati hijaunya hutan, dinginnya suasanya, padahal baru pagi. Aku di luar angkasa dengan rekan kerjaku. "Jangan marah ya, aku bawa 1 cewe ke luar angkasa, waktu lalu ia unggah sedang gosok gigi, kemas2 dengan ku baru bangun setelahnya." Yah, kutau ia galau berat. Aku ngamati dari atas, untung sendiri lagi. "But, I have never seen the green forest or jungle jonction that named it Amazon have a great seen. Only the white big cloud." Dia tau karena baca wa ku dan ia sambil galu berjalan, rupanya ada tower si merah dan putih menyatu bersebelahan, kayaknya tower telkomsel. Tingginya tinggi sekali sekitar 1 kilo meter nya. Ia belum pernah sampai 2 kali, ini yang ketiga. Ia mulai pagi-pagi jam beberapa jam kemudian ia sampai. Tiba-tiba ia diselimuti oleh the white yang dibilang boyfriend nya itu. Itu adalah sungai awan. Dia bertaruh lebih besar dari sungai di dekat tower itu. Ia berhenti dari galaunya dan ...
Saya tutup mata, gak tidur, gak hening cipta, gak bengong, cuma berkaca dan merenung. Saya hela nafas dan berhenti lakukan hentakan, dan keep calm agar I bisa kalem. Aku berpikir, "sungguh terlalu dia-tom bukan tom yang itu yang mengatur keseluruhan, termasuk airnya, dan hutan si hijau yang ia bicarakan itu. Itulah Diatom, si kecil saya tau itu Hidro dan Oksi.
Dulu-dulu sekali my girlfriend naik kapal, ia dan krunya mendekat untuk liat apa yang menarik di depan. Di dunia ice itu aku mendengarkan jusik. Headsetnya ku pasang, batere sama phone nya itu aku jatuhkan gitu aja ke dalam air. "Lalu aku mendengar lagu, gak bikin saya terlalu baper, aku akan carefully heard slow-beat songs." Terntyata gak ada lirik, gak ada lagu tema, senandung. "Aku tertawa, karena hanya suara guali masak, atau suara mie sedang digoreng. Aku really enjoyed it. Then suddenly sangat kerasAku harus panggil para kru untuk menjauh dari sana." It most perfect seen ever. Tapi aku kasian amat, dia-Tom itu mati, jadi salju yang menangis, naik menjadi ice abadi, sebarin lagi menjadi hutan hujan si hijau itu yang indah.
Kembali soal buang gas itu, maksudnya baik. Biar gak buta saya buatnya. Ternyata benar. Aku gak buta lagi, perlahan si besar air itu menjadi kecil. Itu ternyata Oksi itu gak boleh berlebih atau kurang, Kalo kurang sesak nafas, kalo lebih ternyata bisa terbakar loh. Rupanya si Oksi itu berkompromi sama si Hidro dan Carbo, mau niat buruk aja.
Aku naik roket, ku main kan gitar, Ku bernyanyi La-li-lu soal sibiru itu, ternyata aku suka sibiru dan tinggal bersamanya. Bersama sibiru hidup ku tenang, ku naik untuk mencoba gak terlalu berat, biar aku saja ke atas, kamu tetap disana.
Epilogue = Tarik napas, angkat dan turun perlahan, dari semua itu si Oksi dia-Tom itu. Ada 4 temannya, Air, angin (bukan gas kalo dibuang, bukan buang gas, tapi buang angin), tanah, dan jago merah yang gak garang. Mereka berkesinambungan menciptakan sibiru yang megah sedari dulu. Selanjutnya = Keep calm and let it go. Saya ditabrak, digesek, dan buat ku miring. Tapi, tidak ap2. tidak apa-apa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar